EKSPEKTASI


Saat aku SD aku selalu mencoba belajar dan belajar. walaupun tidak sepenuhnya belajar aku masih bermain sama dengan anak-anak yang lainnya. aku juga ikut les jam 2 siang. Namun aku selalu stuck di peringkat 4. Hingga saat aku kelas 5 akhirnya aku bisa berada diperingkat 2. Sungguh pencapaian yang luar biasa untukku saat itu. namun sesampainya dirumah, orang tuaku bersikap biasa saja bahkan tidak ada ucapan selamat untukku. Ekspresiku saat itu berubah drastis. Ekspektasi yang aku harapkan lenyap begitu saja. 
Tahun itu bertepatan saudaraku masuk kuliah. Semua tertuju padanya, semua orang sibuk. Aku yang merupakan Anak kelas 5 yang tidak paham situasi itu, dipikirannya hanya ada mengapa mereka mengabaikanku. Lalu aku berisik karena benci mendengar percakapan mereka. lalu aku ditampar sama mama dan saudaraku bilang "dasar anak pembawa sial". Saat itu benten pertahanan diriku hancur. Aku menangis sejadi-jadinya. Hatiku sangat hancur dan sakit. Bahkan saat itu tidak ada yang membelaku. Kejadian itu selalu terngiang-ngiang dalam pikiranku. Bahkan sampai saat ini tidak dapat aku lupakan. Semenjak kejadian itu. Rasa ingin suicide itu muncul. Benteng-benteng dalam diri mulai terbangun. monster dalam diriku mulai muncul dan tumbuh semakin besar setiap harinya. Siap menggantikan jati diriku kapan pun. Mengenai suicide itu merupakan keinginan saat aku down.
Saat aku menginjak kelas 6 SD. aku ditunjuk untuk mengikuti lomba sebagai perwakilan kelas. Saati itu lombanya jauh. Semua anak diantar oleh orang tuanya. sedangkan aku ? tidak , ayah tidak bisa mengantarku karna masuk kerja. Hari itu aku benar-benar kecewa. Hanya aku yang tidak bersama orang tuanya. Akhirnya aku berangkat bersama guruku. Sepanjang perjalanan aku menangis. Untuk mengerjakannya saja aku tidak bersemangat. Setelah selesai aku balik ke sekolah untuk mengambil sepeda. sekolah sudah sepi tinggal sepedaku sendiri. Aku pulang sendiri dengan kekecewaan. 
Aku selalu mengingatkan diriku untuk jangan berharap pada manusia. termasuk orangtuaku. Karena ujung nya kekecewaan. yang bisa kau harapkan hanyalah dirimu sendiri. Kekecewaan seperti apa yang membuatku menjadi seperti sekarang. Merasa depresi, kecewa berlebih terhadap sesuatu apapun itu. Terlalu banyak kebencian di hati. Sang monster terus berkembang tidak dapat dikendalikan.
Siapa yang peduli? mereka hanya ada saat mereka butuh saja. tidak ada yang benar-benar menginginkan berada disisimu. mereka hanya memanfaatkanmu. Lihat saat kamu butuh mereka menghilang. Tidak ada yang benar menganggapmu serius. 
Aku yang selalu saja bersikap baik. selalu lupa bersikap dingin pada orang lain. Seharusnya membuat batasan .

Komentar

Postingan populer dari blog ini