Black Hole


Seringkali aku merasa kecewa kepada seseorang. karena terlalu besar harapan yang aku sandarkan pada mereka. selalu saja pada akhirnya aku dibuat nangis tersedu-sedu karena kebiasaanku ini. entah berapa kali aku mengingatkan diri sendiri untuk tidak melakukan hal itu.
Saat itu kami begitu dekat segala macam hal kami ceritakan bersama. namun saat bersama meraka aku merasa bukan menjadi diriku sebenarnya seolah-olah ada uul berbeda yang mencoba tersenyum namun terkadang terlalu pendiam dari pribadi sebenarnya. Bertingkah konyol agar mereka tertawa dengan sikapku atau bahkan terlalu menjadi pribadi independent agar bisa dihargai. Terlalu sabar kata mereka. Sepertinya monster dalam diri cukup senang mendengarnya hingga melupakan siapa dirinya sebenarnya. 
Terlalu banyak hal yang aku korbankan saat itu emosi, fisik dan materi. Sedangkan mereka hanya cukup mengeluarkan uneg-uneg dalam diri mereka meminta agar aku bisa menyelesaikan masalahnya. Tanpa sadar telah banyak orang yang membicarakanku dibelakang. se polos apa diriku saat itu. 
Aku pikir aku terlalu menganggap mereka benar seorang teman. Karena selalu saja ada kata "gapapa mereka temanmu" kata tersebut menghiasi pikiranku hingga menangis menjadi pelampiasan terakhir. Tampaknya aku sudah tidak serelevan dengan mereka atau bahkan dari awal memang sudah tidak relevan namun diriku memaksanya.
Pernah saat itu sedang sakti karena terlalu banyak tenaga aku gunakan hingga akhirnya tubuhku sudah tidak sanggup. namun mereka menghubungiku untuk menyelesaikan jobdesc padahal mereka tau aku sedang sakit. rasanya mereka tidak peduli dan membiarkannya tanpa menanyakan kabarku. Tentu aku haru tetap profesional, aku menyelesaikan jobdesc ku.
Aku mulai menjaga jarak terhadap mereka. Aku memilih mundur bukan berarti aku lemah. Tapi aku lebih mencintai diri sendiri. ingin memulai menghargai diri sendiri terlebih dahulu. Karena untuk apa berteman dengan mereka yang tidak mengenal pertemanan yang sebenarnya. Aku mulai menghapus kontaknya, mengunfollow akun instagramnya. dan kami mulai tidak mengobrol lagi.
Merasa bersalah ? tentu saja tidak rasanya lobang hitam dalam hatiku mulai tertutup sedikit-sedikit. rasa lega lebih tepatnya muncul setelah perang batin selalu datang sebagai penghalang untuk memutuskan dinding ini. 
dinding tinggi sebagai benteng pun mulai terbentuk untuk melindungi diri uul yang rentang dan sensitif ini.
Sebenarnya aku merasa kurang nyaman dengan imej yang mereka bentuk. mereka bilang aku adalah anak yang sabar. Padahal aku tidak se sabar itu. aku harus mulai mengakui bahwa uul sebenarnya adalah pemarah, tidak sabaran, susah menerima kritik, terlalu sensitif, tidak mudah memaafkan. I remember what they did to me.
Rasa itu terus saja menganggu rasanya masih fresh. rasanya baru kemarin mereka melakukanku seperti itu. rasa sakit hati itu masih berbekas. Cukup jelas aku mengingatnya. Memutuskan ikatan ini adalah jalan terbaik untuk masa penyembuhan diri. I have dealt with these kind of people before. Now I know how to deal with them better.

Komentar

Postingan populer dari blog ini