KAPAN KAPALKU BERLAYAR ? Sekarang usiaku 20 tahun. Di umurku sekarang aku tidak pernah berada di suatu hubungan "pacaran" kata orang. beberapa kali aku menyukai orang namun hanya sampai tahap teman dekat belum pernah di tahap lanjutan. terkadan aku merasa aku terlalu tertutup. atau karena orang terlalu nyaman menjadikanku teman dekat saja. Pernah aku mencoba membuat akun di suatu aplikasi pasangan. Saat itu aku berpikir bagaimana jika mencoba nya. akhirnya aku berkenalan dengan seseorang dan berlanjut di wa. kami beberapa kali chat. dari sikapnya aku merasa dia ingin aku menjawab pesan dengan cepat sedangkan sehari-hari aku sibuk di lab dan jarang megang hp. jika terlambat menjawab chat di langsung menelponku. lalu beberapa minggu lost contact lalu chat lagi. Di titik itu aku berpikir dia tidak serius yahh aku tau mana mungkin ada cowok yang serius di aplikasi pasangan itu. aku memutuskan untuk bilang sejujurnya kalo aku gak ...
Postingan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
EKSPEKTASI Saat aku SD aku selalu mencoba belajar dan belajar. walaupun tidak sepenuhnya belajar aku masih bermain sama dengan anak-anak yang lainnya. aku juga ikut les jam 2 siang. Namun aku selalu stuck di peringkat 4. Hingga saat aku kelas 5 akhirnya aku bisa berada diperingkat 2. Sungguh pencapaian yang luar biasa untukku saat itu. namun sesampainya dirumah, orang tuaku bersikap biasa saja bahkan tidak ada ucapan selamat untukku. Ekspresiku saat itu berubah drastis. Ekspektasi yang aku harapkan lenyap begitu saja. Tahun itu bertepatan saudaraku masuk kuliah. Semua tertuju padanya, semua orang sibuk. Aku yang merupakan Anak kelas 5 yang tidak paham situasi itu, dipikirannya hanya ada mengapa mereka mengabaikanku. Lalu aku berisik karena benci mendengar percakapan mereka. lalu aku ditampar sama mama dan saudaraku bilang "dasar anak pembawa sial". Saat itu benten pertahanan diriku hancur. Aku menangis sejadi-jadinya. Hatiku sangat hancur dan sakit. Bahkan saat itu t...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Black Hole Seringkali aku merasa kecewa kepada seseorang. karena terlalu besar harapan yang aku sandarkan pada mereka. selalu saja pada akhirnya aku dibuat nangis tersedu-sedu karena kebiasaanku ini. entah berapa kali aku mengingatkan diri sendiri untuk tidak melakukan hal itu. Saat itu kami begitu dekat segala macam hal kami ceritakan bersama. namun saat bersama meraka aku merasa bukan menjadi diriku sebenarnya seolah-olah ada uul berbeda yang mencoba tersenyum namun terkadang terlalu pendiam dari pribadi sebenarnya. Bertingkah konyol agar mereka tertawa dengan sikapku atau bahkan terlalu menjadi pribadi independent agar bisa dihargai. Terlalu sabar kata mereka. Sepertinya monster dalam diri cukup senang mendengarnya hingga melupakan siapa dirinya sebenarnya. Terlalu banyak hal yang aku korbankan saat itu emosi, fisik dan materi. Sedangkan mereka hanya cukup mengeluarkan uneg-uneg dalam diri mereka meminta agar aku bisa menyelesaikan masalahnya. Tanpa sadar telah banyak...